SEJARAH AC MILAN
Klub ini didirikan oleh dua orang ekspatriat Inggris , yaitu Herbert Kilpin dan Alfred Edwards dengan nama
Klub Kriket dan Sepakbola Milan
pada tahun 16 Desember 1899. Pada saat itu, Edwards menjadi Presiden
klub pertama Milan dan Kilpin menjadi kapten tim pertama Milan. Musim
1901, Milan memenangkan gelar pertamanya sebagai jawara sepak bola
Italia, setelah mengalahkan Genoa C.F.C. 3-0 di final Kejuaraan
Sepakbola Italia. Pada 1908, sebagian
pemain dari Italia dan para pemain dari Swiss yang tidak menyukai
dominasi orang Italia dan Inggris dalam skuad inti Milan saat itu,
memisahkan diri dari Milan dan membentuk Internazionale.
GreNoLi
Pada dekade 50-an, Milan ditakuti di bidang sepak bola dunia karena mempunyai trio
GreNoLi , yang terdiri atas
Gunnar Gren ,
Gunnar Nordahl , dan
Nils Liedholm .Ketiganya merupakan pemain asal Swedia. Gren dan Nordahl beroperasi di sektor depan sebagai
striker, sementara Liedholm mendukung serangan sebagai penyerang bayangan (
playmaker).
Tim di masa ini juga dihuni oleh sekelompok pemain-pemain berkualitas
pada masanya, seperti Lorenzo Buffon, Cesare Maldini, dan Carlo
Annovazzi. Kemenangan tersukses AC Milan oleh Juventus tercipta 5
Februari 1950, dengan skor 7-1, dan Gunnar Nordahl mencetak
hat-trick.
Era Nereo Rocco
Milan kembali memenangi musim 1961/1962. Pelatihnya saat itu adalah
Nereo Rocco, pelatih sepak bola yang inovatif, yang dikenal sebagai
penemu taktik
catenaccio (pertahanan
gerendel/berlapis). Di dalam tim termasuk Gianni Rivera dan José
Altafini yang keduanya masih muda. Musim berikutnya, dengan gol
Altafini, Milan memenangkan Piala Eropa pertama mereka (kemudian
dikenal sebagai Liga Champions UEFA) dengan mengalahkan Benfica 2-1. Ini
juga merupakan pertama kalinya sebuah tim Italia memenangkan Piala
Eropa.
Meskipun begitu, selama tahun 1960-an piala kemenangan Milan mulai
menyusut , terutama karena perlawanan berat dari Inter yang dilatih
Helenio Herrera. Scudetto berikutnya tiba hanya di 1967/1968, berkat gol
Pierino Prati, topskor Seri A di musim itu, Piala Winners berhasil
direbut ketika mengalahkan Hamburger SV, dan juga berkat dua gol dari
Kurt Hamrin. Musim selanjutnya AC Milan memenangkan Piala Eropa kedua
(4-1 untuk AFC Ajax), dan pada 1969 memenangkan Piala Interkontinental
pertama, setelah mengalahkan Estudiantes de La Plata dari Argentina
dalam dua leg dramatis (3-0, 1-2).
Scudetto kesepuluh dan Seri B
Di tahun 1970, Milan merebut tiga gelar Coppa Italia dan gelar Piala Winners kedua; namun, tujuan utama Milan adalah
scudetto
kesepuluh, yang berarti mendapatkan "bintang" untuk tim (di
Italia,setiap tim yang meraih 10 gelar liga mendapat bintang yang
disemat di bajunya). Di 1972 mereka meraih semifinal Piala UEFA, kalah
dari pemenang sesungguhnya, Tottenham Hotspur. Musim 1972/1973 mereka
hampir memenangkan
scudetto kesepulh, namun gagal karena hasil
kalah menyakitkan dari Hellas Verona F.C. di pertandingan terakhir
musim. AC Milan menunggu sampai musim 1978/1979 untuk meraih
scudetto
kesepuluh mereka, yang dipimpin oleh Gianni Rivera, yang pensiun dari
dunia sepak bola setelah membawa timnya meraih kemenangan tersebut.
Namun, hasil terburuk datang kepada
"Rossoneri": setelah
memenangkan musim 1979/1980, Milan didegradasi ke Seri B oleh F.I.G.C,
bersama S.S. Lazio, karena terlibat skandal perjudian Totonero 1980. Di
1980/1981, Milan dengan mudah menjuarai Seri B, dan kembali ke Seri
A, di mana penyakit tersebut terulang di musim 1981/1982, Milan
terdegradasi kembali.
the Dream Team
Kedatangan Berlusconi
Setelah serentetan masalah menerpa Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh
enterpreneur
Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala
itu. Dia datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk
Milan, Arrigo Sacchi, serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten,
Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, untuk mengembalikan tim pada
kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya, seperti Roberto Donadoni,
Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.
Era Sacchi
Sacchi memenangkan Seri A musim 1987-1988. Di 1988-1989, Milan
memenangkan gelar Liga Champions ketiganya, mempecundangi Steaua
Bucureşti 4-0 di final, dan gelar Piala Interkontinental kedua
mengalahkan National de Medellin (1-0, gol tercipta di babak
perpanjangan waktu). Tim mulai mengulangi kejayaan mereka di musim-musim
berikutnya, mengalahkan S.L. Benfica, dan Olimpia Asunción di 1990.
Skuad kemenangan Eropa mereka adalah:
Kiper : Giovanni Galli
Bek : Mauro Tassotti -- Alessandro Costacurta -- Franco Baresi -- Paolo Maldini
Gelandang : Angelo Colombo -- Frank Rijkaard -- Carlo Ancelotti -- Roberto Donadoni
Penyerang : Ruud Gullit -- Marco van Basten
Era Capello
Saat Sacchi meninggalkan Milan untuk melatih Italia, Fabio Capello
dijadikan pelatih Milan selanjutnya, dan Milan meraih masa keemasannya
sebagai
Gli Invicibli (The Invicibles) dan
Dream Team. Dengan 58 pertandingan tanpa satu pun kekalahan
Invicibli
membuat tim impian di semua sektor seperti Baresi, Costacurta, dan
Maldini memimpin pertahanan terbaik, Marcel Desailly, Donadoni, dan
Ancelotti di gelandang, dan Dejan Savićević, Zvonimir Boban, dan Daniele
Massaro bermain di sektor depan. Pada saat dilatih Capello ini,
Milan pernah singgah ke Indonesia dalam rangka tur musiman dan
melawan klub lokal Persib Bandung. Pertandingan yang dimulai di
Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 4 Juni 1994 itu
dimenangkan Milan dengan skor telak 8-0. Gol kemenangan Milan dicetak
oleh Dejan Savićević ('17)('18), Gianluigi Lentini ('26), Paolo
Baldieri ('27)('48)('58), Christian Antigori ('68), dan Stefano
Desideri ('78).
Masa masa sulit (Tabarez ke Terim)
1996-1997
Setelah kepergian Fabio Capello pada tahun 1996, Milan merekrut Oscar
Washington Tabarez tetapi perjuangan keras di bawah kendalinya kurang
berhasil dan mereka selalu kalah dalam beberapa pertandingan awal.
Dalam upaya untuk mendapatkan kembali kejayaan masa lalu, mereka
memanggil kembali Arrigo Sacchi untuk menggantikan Tabarez. Milan
mendapatkan tamparan keras kekalahan terburuk mereka di Seri A,
dipermalukan oleh Juventus F.C. di rumah mereka sendiri San Siro dengan
skor 1-4. Milan membeli sejumlah pemain baru seperti Ibrahim Ba,
Christophe Dugarry dan Edgar Davids. Milan berjuang keras dan mengakhiri
musim 1996-1997 di peringkat kesebelas di Seri A.
1997-1998
Sacchi digantikan dengan Capello di musim berikutnya. Capello yang
menandatangani kontrak baru dengan Milan merekrut banyak pemain
potensial seperti Kristen Ziege, Patrick Kluivert, Jesper Blomqvist, dan
Leonardo; tetapi hasilnya sama buruk dengan musim sebelumnya. Musim
1997-1998 mereka berakhir di peringkat kesepuluh. Hasil ini tetap
tidak bisa diterima para petinggi Milan, dan seperti Sacchi, Capello
dipecat.
1998-1999
Dalam pencarian mereka untuk seorang manajer baru, Alberto Zaccheroni
menarik perhatian Milan. Zaccheroni adalah manajer Udinese yang telah
mengakhiri musim 1997-1998 pada peringkat yang tinggi di tempat ke-3.
Milan mengontrak Zaccheroni bersama dengan dua orang pemain dari
Udinese, Oliver Bierhoff dan Thomas Helveg. Milan juga menandatangani
Roberto Ayala, Luigi Sala dan Andres Guglielminpietro dan dengan formasi
kesukaan Zaccheroni 3-4-3, Zaccheroni membawa klub memenangkan
scudetto ke-16 kembali ke Milan.
Starting XI
adalah: Christian Abbiati; Luigi Sala, Alessandro Costacurta, Paolo
Maldini; Thomas Helveg, Demetrio Albertini, Massimo Ambrosini, Andres
Guglielminpietro; Zvonimir Boban, George Weah, Oliver Bierhoff.
1999-2000
Meskipun sukses di musim sebelumnya, Zaccheroni gagal untuk mentransformasikan Milan seperti
The Dream Team
dulu. Pada musim berikutnya, meskipun munculnya striker Ukraina Andriy
Shevchenko, Milan mengecewakan fans mereka baik dalam Liga Champions
UEFA 1999-2000 ataupun Seri A. Milan keluar dari Liga Champions lebih
awal, hanya memenangkan satu dari enam pertandingan (tiga seri dan
dua kalah) dan mengakhiri musim 1999-2000 di tempat ke-3. Milan
tidaklah menjadi sebuah tantangan bagi dua pesaing
scudetto kala itu, S.S. Lazio dan Juventus.
2000-2001
Pada musim berikutnya, Milan memenuhi syarat untuk Liga Champions UEFA
2000-2001 setelah mengalahkan Dinamo Zagreb agregat 9-1. Milan
memulai Liga Champions dengan semangat tinggi, mengalahkan Beşiktaş JK
dari Turki dan raksasa Spanyol FC Barcelona, yang pada waktu itu
terdiri dari superstar internasional kelas dunia, Rivaldo dan Patrick
Kluivert. Tapi performa Milan mulai menurun secara serius, seri
melawan sejumlah tim (yang dipandang sebagai kecil/lemah secara
teknis untuk Milan), terutama kalah 2-1 oleh Juventus di Seri A dan
1-0 untuk Leeds United. Dalam Liga Champions putaran kedua, Milan
hanya menang sekali dan seri empat kali. Mereka gagal untuk
mengalahkan Deportivo de La Coruña dari Spanyol di pertandingan
terakhir dan Zaccheroni dipecat. Cesare Maldini, ayah dari kapten tim
Paolo, diangkat dan hal segera menjadi lebih baik. Debut kepelatihan
resmi Maldini di Milan dimulai dengan menang 6-0 atas A.S. Bari, yang
masih memiliki senjata muda, Antonio Cassano. Itu juga di bawah
kepemimpinan Maldini bahwa Milan mengalahkan saingan berat sekota
Internazionale dengan skor luar biasa 6-0, skor yang tidak pernah
diulang dan di mana Serginho membintangi pertandingan. Namun, setelah
bentuk puncak ini, Milan mulai kehilangan lagi termasuk kekalahan
1-0 yang mengecewakan untuk Vicenza Calcio, dengan satu-satunya gol
dalam pertandingan dicetak oleh seorang Luca Toni. Terlepas dari
hasil ini, dewan direksi Milan bersikukuh bahwa Milan mencapai tempat
keempat di liga di akhir musim, tapi Maldini gagal dan tim berakhir
di tempat keenam.
2001-2002
Milan memulai musim 2000-2001 dengan lebih banyak penandatanganan
kontrak pemain bintang termasuk Javi Moreno dan Cosmin Contra yang
membawa Deportivo Alavés ke putaran final Piala UEFA. Mereka juga
menandatangani Kakha Kaladze (dari Dynamo Kyiv), Rui Costa (dari AC
Fiorentina), Filippo Inzaghi (dari Juventus), Martin Laursen (dari
Hellas Verona), Jon Dahl Tomasson (dari Feyenoord), Ümit Davala (dari
Galatasaray) dan Andrea Pirlo (dari Inter Milan). Fatih Terim diangkat
sebagai manajer, menggantikan Cesare Maldini, dan cukup sukses.
Namun, setelah lima bulan di klub, Milan tidak berada di lima besar
liga dan Terim dipecat karena gagal memenuhi direksi harapan.
Era Ancelotti
Terim digantikan oleh
Carlo Ancelotti, meskipun rumor
bahwa Franco Baresi akan menjadi manajer baru. Terlepas dari masalah
cedera pemain belakang Paolo Maldini, Ancelotti berhasil dan
mengakhiri musim 2001-02 dalam peringkat empat, tempat terakhir untuk di
Liga Champions.
Starting XI pada saat itu adalah Christian
Abbiati; Cosmin Contra, Alessandro Costacurta, Martin Laursen, Kakha
Kaladze, Gennaro Gattuso, Demetrio Albertini, Serginho; Manuel Rui
Costa; Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi. Ancelotti membawa Milan
meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika
mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti di Manchester, Inggris.
Milan terakhir kali meraih gelar prestisus dengan merebut juara Liga
Italia pada musim kompetisi 2003/2004 sekaligus menempatkan penyerang
Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia, maka
rossoneri-pun semakin ditakuti.
Pasang surut 2006-2008
Milan saat menghadapi corner di suatu pertandingan musim 2005/2006
Pada musim kompetisi Liga Italia Seri A 2006/2007, Milan terkait dengan skandal
calciopoli
yang mengakibatkan klub tersebut harus memulai kompetisi dengan
pengurangan 8 poin. Meskipun begitu, publik Italia tetap berbangga
karena di tengah rusaknya citra sepak bola Italia akibat calciopoli,
Milan berhasil menjuarai kompetisi sepak bola yang paling bergengsi di
dunia, Liga Champions. Hasil itu didapat setelah Milan menaklukkan
Liverpool 2-1 lewat dua gol Filippo Inzaghi. Gelar inipun menuntaskan
dendam Milan yang kalah adu penalti dengan Liverpool dua tahun silam.
Gelar pencetak gol terbanyakpun disabet pemain jenius Milan, Kaká
dengan torehan 10 gol. Pada pertengahan musim, Milan mendatangkan mantan
pemain terbaik dunia, Ronaldo dari Real Madrid untuk memperkuat
armada penyerang mereka setelah penyerang muda Marco Borriello dihukum
karena terbukti doping. Musim 2007/2008, Milan terpaksa bermain di
kompetisi Piala UEFA setelah hanya berhasil menduduki peringkat ke-5
dibawah Fiorentina dengan selisih 2 poin. Dalam pertandingan Serie A
yang terakhir, Milan menang 4-1 atas Udinese, tapi di saat bersamaan,
Fiorentina juga menang atas Torino dengan skor 1-0 yang akhirnya
posisi kedua tim tak ada perubahan. Untuk memperbaiki performa di
musim berikut (2008/2009), Milan membeli sejumlah pemain baru, di
antaranya Mathieu Flamini dari Arsenal, serta Gianluca Zambrotta dan
Ronaldinho yang keduanya berasal dari Barcelona. Pada transfer paruh
musim 2008/2009, Milan mendatangkan David Beckham dengan status
pinjaman dari klub sepak bola Amerika Serikat LA Galaxy.
Pasca-Ancelotti
Era Leonardo
Pada akhir musim 2008/2009,Milan menempati peringkat ke-3 klasemen
liga Serie A, dua peringkat di bawah rival sekota, Internazionale yang
meraih scudetto dan di bawah Juventus. Untuk memperbaiki hasil yang
kurang memuaskan ini, Milan mendatangkan pelatih muda yang sekaligus
mantan pemain Milan era 90-an, Leonardo untuk menggantikan pelatih Milan
sebelumnya, Ancelotti yang "hijrah ke London", tepatnya klub Chelsea
F.C.. Milan juga terpaksa melepas beberapa pemainnya, antara lain:
- Kaka, pindah ke Real Madrid .Nilai transfernya ± 67 juta Euro
- Paolo Maldini, bek legendaris Milan ini memutuskan untuk pensiun
- Yoann Gourcuff, memutuskan untuk tetap di Bordeaux.
Masalah terbesar yang mengganjal transfer para pemain tersebut
adalah pihak Milan yang selalu berpikir dua kali untuk mengeluarkan
uang demi membeli seorang pemain. Pada bulan Juli dan Agustus 2009,
Milan mendapatkan dua pemain baru, yaitu Oguchi Onyewu yang merupakan
seorang mantan bek Standard Liège dengan status bebas transfer dan
Klaas-Jan Huntelaar eks striker Real Madrid dengan nilai kontrak 14,7
juta Euro. Namun hasil yang di dapatkan Milan pada turnamen pra-musim
banyak menuai kekecewaan, pemain anyar yang diturunkan oleh Milan
pada saat tur pra-musim hanya Oguchi Onyewu karena Huntelaar baru
bergabung bulan Agustus.
Musim 2009/2010 diawali Milan dengan hasil yang tidak memuaskan.
Bermula ketika Milan meraih hasil imbang 2-2 melawan Los Angeles Galaxy,
seterusnya, Milan terus menuai hasil negatif. Milan terperosok di
ajang World Football Challange 2009. Di ajang Audi Cup, Milan juga
kalah oleh Bayern Munich dengan skor 1-4. Bahkan, ketika menghadapi
derby
30 Agustus 2009 melawan Internazionale di San Siro, Milan kalah
memalukan dengan skor 0-4, sekaligus memecahkan rekor kemenangan
terbesar Inter di San Siro.
Pertengahan Oktober 2009, penilaian berbagai pihak tentang kinerja
Leonardo sebagai pelatih yang tadinya berada di titik terendah akibat
serentetan performa buruk, mulai terdongkrak dengan berhasilnya
Leonardo memimpin Milan mengalahkan AS Roma 2-1 di San Siro[3]. Setelah
kemenangan itu, Milan juga menuai hasil positif di Stadion Santiago
Bernabéu dengan kemenangan dramatis atas Real Madrid 3-2[4]. Dan setelah
itu, Milan kembali menuai kemenangan atas Chievo Verona di Stadio
Marc'Antonio Bentegodi, kandang Chievo, skor 2-1 untuk kemenangan AC
Milan. Pada 1 November 2009, Milan mengalahkan Parma F.C. di San Siro
2-0[5] sekaligus mengantarkan Milan ke peringkat 4 klasemen sementara
(Zona masuk Liga Champions terakhir). Pada 19 November 2009, kekalahan
0-2 Juventus F.C. dari Cagliari membuat Milan berada di posisi
runner-up
di bawah Internazionale; karena, beberapa jam setelah kekalahan
Juventus, Milan memenangkan pertandingannya dengan Catania, 2-0[6].
Memasuki bagian akhir musim Serie A April 2010, Milan yang tengah
berada di peringkat ketiga dan hanya selisih 4 poin dari peringkat
pertama kelasemen AS Roma, dan hanya berjarak 1 poin dengan peringkat
kedua Inter Milan. Namun pada akhirnya Milan harus takluk dua kali
berturut-turut dari Sampdoria 2-1, dan dari Palermo dengan skor 3-1.
Dengan kekalahan tersebut, impian Milan untuk meraih gelar musim ini
pupus. Pada pertandingan di
giornata terakhir Seri A 2009/2010
antara Milan melawan Juventus, Leonardo memimpin Milan mengalahkan
Juventus 3-0 di San Siro[7], sekaligus memberi kontribusi terakhirnya
bagi
rossoneri, dan mengumumkan bahwa ia akan berhenti melatih
Milan untuk musim depan.[8] Sejak mundurnya Leonardo, banyak spekulasi
yang berpendapat mengenai pelatih baru Milan, tetapi pada 25 Juni
2010, secara mengejutkan pihak Milan mengumumkan untuk memilih
Massimiliano Allegri sebagai pelatih baru Milan.[9]
Era Allegri
Musim 2010/2011, Milan dipimpin oleh Massimiliano Allegri, dengan
berbagai pembaruan mulai dari sponsor (bwin.com digantikan Emirates),
hingga lini pemain. Di akhir bursa transfer, secara mengejutkan Milan
memboyong Zlatan Ibrahimovic dari F.C. Barcelona (dengan opsi pinjaman
dan pembelian 24 juta Euro di akhir musim), dan Robinho dari Manchester
City.
1 GK Marco
Amelia
4 MF Mark
van Bommel
7 FW Alexandre
Pato
8 MF Gennaro Ivan
Gattuso (Wakil Kapten)
9 FW Filippo
Inzaghi
10 MF Clarence
Seedorf
11 FW Zlatan
Ibrahimovic
13 DF Alessandro
Nesta
14 MF Rodney
Strasser
15 DF Sokratis
Papastathopoulos
16 MF Mathieu
Flamini
17 DF Massimo
Oddo
18 DF Marek
Jankulovski
19 DF Gianluca
Zambrotta
20 MF Ignazio
Abate
21 MF Andrea
Pirlo
No.
Pos. Nama
23 MF Massimo
Ambrosini ( Kapten)
25 DF Daniele
Bonera
27 MF Kevin-Prince
Boateng
28 MF Urby
Emanuelson
30 GK Flavio
Roma
32 GK Christian
Abbiati
33 DF
Thiago Emiliano da
Silva
35 DF Dídac
Vilà
52 MF Alexander
Merkel
66 DF Nicola
Legrottaglie
70 FW Róbson
Robinho de Souza
76 DF Mario
Yepes
77 DF Luca
Antonini
90 FW Nnamdi
Oduamadi
99 FW Antonio
Cassano
Ac.Milan Legend 1899 ( Herbert Kilpin )
Herbert Kilpin (lahir di Nottingham, Inggris, 24
Januari 1870 – meninggal 22 Oktober 1916 pada umur 46 tahun) adalah
pesepakbola asal Inggris. Ia memulai kariernya di kampung halamannya,
Nottingham dan bermain untuk Notts Olympic. Selanjutnya, ia bermain
untuk Saint Andrews, sebelum ia berpindah ke Italia tahun 1891 dan
menjadi anggota Internazionale Torino. Pada tahun 1898, ia pindah ke
Milan. Di sana, ia bersama temannya,
Alfred Edwards mendirikan
Milan Cricket and Football Club, cikal bakal klub raksasa Italia, AC Milan. Kilpin menjadi kapten pertama
Rossoneri,
dan juga sebagai pelatih pertama. Dia bermain selama delapan musim di
Milan dan memenangi tiga gelar lokal (1901, 1906, 1907). Ia berhenti
berkarier bersama Milan saat pemain non-Italia dilarang bermain dalam
liga. Saat Perang Dunia II berkecamuk, ia tetap di Italia, sampai ia
meninggal tahun 1916. Dia dikremasi di
Milan Muncipal Cemetery, Milan. Pada tahun 1990 ia dikremasi ulang di
Monumental Graveyard dan AC Milan menyumbang sebuah batu nisan sebagai tanda penghormatan.
Biodata :
Nama lengkap Herbert Kilpin
Tanggal lahir 24 Januari 1870
Tempat lahir Nottingham, Inggris
Tanggal wafat 22 Oktober 1916
Posisi bermain Bek Gelandang Klub senior
Tahun Klub Tampil (Gol)
18??- ?? Notts Olympic ? (?)
18??- ?? Saint Andrews ? (?)
1891-99 Internazionale Torino ? (?)
1900-07 AC Milan 27 (7)
HERBERT KILPIN, SANG PIONEER
Herbert Kilpin
(24 Januari 1870 – 22 Oktober 1916)
Herbert Kilpin, si bungsu dari sembilan bersaudara, lahir pada tanggal 24 Januari 1870 dari pasangan
Edward Kilpin dan
Sarah Smith,
di sebuah rumah sekaligus toko daging milik Edward yang beralamat di
129 Mansfield Road, Nottingham, Inggris. Tumbuh sebagai anak tukang
daging (seorang tukang daging jaman itu adalah seorang yang kaya),
membuat Kilpin kecil memiliki kesempatan untuk sekolah dan belajar ilmu
perdagangan dalam industri tekstil. Dan setelah setelah menyelesaikan
studinya, Kilpin bekerja sebagai seorang asisten di sebuah gudang
tekstil renda di kota itu. (Nottingham terkenal karena industri tekstil
renda).
Masa remaja Kilpin adalah masa-masa di mana sepakbola, sebuah olahraga
baru waktu itu, sedang naik daun dan dengan cepat memiliki banyak
penggemar, termasuk Kilpin muda. Ia adalah seorang pemain bola yang
handal, dan pada umur 13 tahun sudah menjadi pemain dari sebuah klub
amatir yang kecil,
Garibaldi Nottingham. Nama klub
tersebut diambil dari nama pahlawan nasional Italia, Giuseppe
Garibaldi. Warna merah adalah warna kebesaran klub tersebut, merujuk
pada warna tradisional Garibaldi.
(Pada sebuah interview di tahun 1915, Kilpin mengungkapkan
bahwa warna Merah ini selalu dibawa di dalam hatinya karena sangat
mengagumkan, dan kelak dikombinasikan dengan warna Hitam, warna kostum yang menjadi tradisi dalam kehidupan sosial di kota Milan.)
Karir sepakbola Kilpin berlanjut ketika ia bermain untuk Notts
Olympic. Selanjutnya, ia bermain untuk Saint Andrews, sebuah tim yang
bernaung di bawah sebuah yayasan gereja, dekat Forest Recreation Ground
di Gregory Boulevard, di mana ia bermain sebagai seorang bek dan
gelandang.